Tags

, , ,

Pasar Karimunjawa,

Pasar murah meriah, terletak disamping kantor kecamatan karimunjawa

Terlihat senyum simpul para pedagang di pasarkarimunjawa yang sangat ramah sekali, hampir seluruh pedagang adalah separuh baya tetapi mereka sangat ulet dan menjajakan dagangannya.

Beginilah suasana pasar karimunjawa dipagi hari, mereka menjual beragam kebutuhan rumah tangga dan sangat terbatas karena bergantung kepada suplai bahan dari Jepara. Pasar tutup sekitar jam 10an.

Wisata Religius

Snorkeling dan diving merupakan suatu hal yang wajar dilakukan bila kita berwisata ke pulau Karimunjawa. Namun  wisata religius seperti berziarah ke makam sunan Nyamplungan pun bisa dijadikan alternatif  untuk tujuan wisata, khususnya bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah. Untuk pertunjukan seni dan budaya disini hampir punah karena kurangnya perhatian khusus dari pemerintah setempat dalam menjaga kelestarian seni dan budaya lokal.

Sunan Nyamplungan

Banyak versi memang yang menceritakan tentang sejarah sunan Nyamplungan itu sendiri. Berdasarkan penuturan dari juru kunci makam, yakni bapak Tyoso, Sunan Nyamplungan mempunyai nama asli Amir Hasan, ada yang mengatakan putra dari Sunan Kudus dan Dewi Rupil, namun ada pula yang mengatakan putra dari sunan Muria. Syekh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan) terkenal dengan kebandelannya pada waktu itu. Sehingga oleh ayahnya, beliau disuruh pergi ke utara. Apabila dilihat dari gunung Muria, di arah utara tampak gugusan pulau yang tampak samar-samar (kremun-kremun). Oleh karena itu, pulau tersebut kemudian dinamakan Karimun Jawa (kremun-kremun kethok soko Jowo = samar-samar terlihat dari Jawa). Selain itu, dalam bahasa Arab, Karimun berarti mulya. Nama Karimun Jawa dapat diartikan mulya-mulyane Jowo (mulya-mulyanya Jawa.).

Nama Nyamplungan yang digunakan sebagai nama desa ini pada awalnya berasal dari nama pohon. Pada waktu itu, di sekitar pantai, banyak terdapat pohon nyamplung. Konon ceritanya, pohon Nyamplung ini cukup keramat. Sunan Nyamplungan sangat menggemari buah dari pohon ini. Pada tahun 1980-an, oleh pemilik tanah, pohon tersebut ditebang. Entah karena kebetulan atau tidak, bapak Ali seorang masyarakat lokal yang nekat melewati lokasi penebangan, hampir tertimpa pohon tersebut. pohon itu kebetulan mempunyai 2 cabang batang diatasnya, sehingga ketika posisi pohon telah jatuh ke tanah, cabang tersebut tepat mengapit tubuh Bapak Ali dan hanya sedikit menggores kulitnya.

Image Hosted by ImageShack.us

Legon lele

Lain cerita dengan legenda lele yang terkenal di daerah ini karena lele dikarimunjawa tidak memiliki patil yang tajam. Lalu kemudian daerah tempat berkembangbiaknya lele ini kemudian dinamakan Legon Lele. Sejarahnya saya kurang paham dan hanya tahu info yang sedikit, jadi tidak saya tulis disini. Didaerah legon lele ini merupakan daerah yang subur, walaupun tidak luas kita bisa melihat beberapa komoditas seperti perkebunan jambu mete, kelapa disepanjang pantai dan ada juga tanaman padi. Sumber mata air untuk kebutuhan dipulau karimunjawa terdapat didaerah ini.

Pemandangan didaerah Legon Lele

Di Legon Lele juga terdapat Bumi Perkemahan (Camping Ground), jadi bagi temen-temen yang mau merasakan suasana hutan bisa kemping disini, meskipun tidak begitu luas lumayan juga untuk pengalaman.

Rumput laut

Rumput laut dikarimunjawa sangat besar-besar berbeda dengan rumput laut yang ada di Yogyakarta, mungkin karena saya makannya disana, kalau sudah dibawa ke Jogja sudah menciut mungkin. Budidaya rumput laut dikarimunjawa 5 tahun terakhir ini sangat trend, berbeda pada waktu dulu, masyarakat lebih sering mencari ikan dengan keliling pulau menggunakan perahu. Mungkin karena rumput laut yang memliki harga jual tinggi dipasaran dan sangat diminati masyarakat diluar karimunjawa.

Image Hosted by ImageShack.us

Bersambung….

Advertisements