Tags

, ,

Tepat jam 18.30 hari Selasa Wage 4 agustus 2009, teman saya bernama Walyono sms saya memberitahukan untuk datang ke Yogya Semesta, tanpa pikir2 lama lagi saya langsung bergerak dari hibernasi yang tiada henti2nya didalam kosan, setelah itu mempersiapkan diri dan tentu saja wajib membawa “senjata” untuk mengabadikan moment tersebut di Kepatihan (Kantor Gubernur DIY). Entah sudah kesekian kalinya saya mengikuti acara “Yogya Semesta” dengan berbagai materi “Dialog Budaya & Gelar Seni” yang setiap datang selalu disuguhi dengan dialog komunikatif dari beberapa pembicara yang sangat memberikan manfaat ilmu dan pengetahuan bagi saya sendiri, dan tak lupa juga Hari Dendi selaku pengasuh Yogya Semesta selalu kreatif dalam memandu dan menyajikan rangkaian acara keseluruhan, terlebih lagi dalam mempertunjukan kesenian tradisional dari Indonesia maupun Mancanegara.

Image and video hosting by TinyPic
Pada malam itu tema yang diangkat adalah “SINERGI TRIPILAR: Pariwisata – Budaya – Pendidikan”, Artinya dalam membicarakan persoalan budaya tentu tak akan lepas dari yang namanya wisata, dan pendidikan selalu saja ada didalamnya. Ketika membicarakan wisata, tentu saja akar budaya lokal tidak akan lepas dalam pengemasannya dan tentu saja budaya sebagai basis pendidikan. Betul gak….

Dialog tersebut dipaparkan oleh dua narasumber dari sudut pandang yang berbeda, Drs. Djoko Dwiyanto, MHum, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, memaparkan kebijakan dan upaya-upaya membangun sinergi pengembangan kebudayaan dan pariwisata, sedangkan Drs. Bambang Sunaryo, MA, Msc, Staf ahli STUPA Indonesia, memaparkan hasil kajiannya dalam pengembangan pariwisata budaya sebagai mandat Undang-Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan. Setelah itu materi tersebut akan dibahas oleh dua narasumber lainnya, Ir. H. Yuwono Sri Suwito, MM sebagai Ketua Dewan Kebudayaan DIY dan Ketua Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya Yogyakarta, dan Prof. Dr. Wuryadi, MS selaku Guru Besar MIPA-UNY dan merangkap sebagai Ketua Dewan Pendidikan DIY. Dalam dialog tersebut ada beberapa poin penting tentang sinergis dan keterpaduan program2 kegiatan tiga pilar. Dalam dialog tersebut yang dipandu oleh Hari Dendi selaku pengasuh Yogya Semesta, untuk mencairkan suasana pengasuh menyelingi dengan Seni Musik Tiongkok oleh Lilyana Irawan dan Seni Musik Bambu “Rinding Gumbeng” dari Jerukwudel Gunung Kidul.

Dari ketiga pilar diatas memang seyogyanya harus terintegrasi secara sinergis dan harus memberikan dampak positif bagi siapapun yang berbenturan dengan hal tersebut dan dilakukan secara bijaksana dan berkesinambungan. Namun pada kenyataannya wisata budaya selalu saja memberikan dampak negatif kepada pelaku dan penikmat wisata, banyak dari ulah pariwisata yang merusak keindahan alam, mengotori lingkungan dan budaya dan sebagainya. Pembangunan pertokoan besar atau mall malah menjadikan suasana kota budaya semakin terkikis. Contoh saja kota Yogyakarta, yang pada akhir tahun 2006 kita masih menjumpai bangunan2 rumah bersejarah, monumen yang terawat, pepohonan yang indah dan rimbun, taman dimana-mana, kuliner lokal yang khas dan sebagainya…tetapi sekarang semakin tergeser akibat modernisasi, pembangunan infrastruktur tak berbasis budaya, oknum yang berkepentingan dan akibat masyarakat Yogyakarta sendiri yang semakin berkurang jiwa seni dan budayanya.

Ketika beberapa teman dikampus saya tanya, khususnya teman asli dan besar Jogja.

Apa yang anda temukan ketika datang ke Candi bersejarah seperti Borobudur dan Prambanan? Belum pernah kesana gung jawabnya….Ya ampun, kasian bgt deh lu. Lalu pernah ikutan atau melihat Labuhan atau Gunungan diKraton, Nonton Jathilan, Gamelan,  Wayangan, Ulen Sentallu, Sendratari Ramayana dan sebagainya-dan sebagainya atau bahkan datang ke Taman Budaya deh….belum pernah, pernah liat sebentar itupun waktu kecil, sudah lupa, gak doyan, apaan tuh kayak gak ada kerjaan lain…begitulah variasi jawabannya….ampun tuhan. Semoga masih ada generasi selanjutnya yang tetap berseni dan berbudaya.

…Mari tetap melestarikan sekaligus mengenalkan keanekaragaman seni dan budaya Indonesia…

Advertisements